Perbedaan Pandangan Masyarakat Tentang Celana Cingkrang

Bahkan jauh hari ketika ulama mazhab masih ada perbedaan pandangan soal hal tersebut sudah ada. Ketua PP Muhammadiyah Dadang Kahmad memandang soal pakaian cingkrang atau menggupai ke tanah bukan masalah utama.

Celana Cingkrang Itu Sah Sah Saja Tapi Benarkah Itu Sunnah Nabi Pecihitam Org

Cara berpikir ala kasak-kusuk tidak peduli misalkan seseorang memakai celana cingkrang karena tidak sanggup beli celana baru sementara tubuhnya terus bertambah tinggi atau seseorang.

Perbedaan pandangan masyarakat tentang celana cingkrang. Perbedaan pandangan mengenai celana cingkrang cadar dan jenggot tidak hanya terjadi di masyarakat Indonesia dewasa ini. Hadis riwayat Bukhari dari Abdullah bin Umar RA menyebutkan demikian yaitu barang siapa yang memanjangkan pakaiannya karena sombong khuyala Allah tidak akan melihatnya kelak pada hari kiamat. Para ulama mazhab empat berbeda pendapat tentang hukum memanjangkan pakaian melebihi mata kaki isbal.

Sedangkan kelompok lain menganggap mereka yang tidak setuju dengan celana cingkrang dan cadar dicap sebagai kelompok ingkar sunah. Bersabda Barang siapa yang menjulurkan pakaiannya melebihi mata kaki karena sombong maka Allah Swt. Pemakaian cadar bisa jadi merupakan bagian dari kenyamanan seseorang.

Sunnah Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Kebalikan dari mengenakan celana cingkrang disebut isbal yaitu memanjangkan pakaian berupa celana sarung jubah dan sebagainya melebihi mata kaki. Poin pentingnya ada dua.

Riwayat Ibnu Umar ra bahwa Nabi Muhammad Saw. Dalam tradisi sejumlah lapisan masyarakat pada masa itu panjang busana dijadikan sebagai tolok ukur bagi kualitas dan strata sosial yang bersangkutan. Penggunaan cadar dan celana cingkrang tidak menunjukkan kadar keimanan seseorang.

Artinya silakan mengenakan celana cingkrang untuk menjauhkan diri dari kesombongan. Pemerintah di Kabupaten Aceh Besar menilai jika larangan cadar dan celana cingkrang resmi menjadi peraturan maka larangan tersebut tidak layak dipatuhi karena pakaian adalah ranah personal. Belum ada konsensus bahwa cadar merupakan suatu kewajiban bagi seorang.

Yang manakah antara sunah dan praktis yang paling dominan masih bersifat variabel. Saya mengamati dan mensurvei kecil-kecilan terhadap orang yang bercelana cingkrang memperoleh pandangan mereka sebagai berikut. Dari kacamata saya apa yang dikatakan Menteri Agama Fachrul Razi ini sebenarnya bukan masalah radikalisme tapi lebih pada kepantasan berseragam di jajarannya.

Setiap individu memiliki kebebasan untuk mengapresiasikan keyakinan atau ketaatan kepada Tuhannya. Menteri Agama Menag Fachrul Razi sempat menghembuskan wacana pelarangan memakai celana cingkrang bagi aparatur sipil negara ASN. Tapi sekarang kan tidak berbeda dengan pada zaman Nabi yang dilihat hanya pada kainnya.

Saya heran dengan reaksi banyak orang terhadap pernyataan Menteri Agama tentang rencana pelarangan cadar dan celana cingkrang di kementeriannya. Hukum isbal berasal dari hadis Rasulullah Saw. Sunnah Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Masalah celana cingkrang itu tidak bisa dilarang dari aspek agama. Dari sisi lain mengartikan hadits ini hanya dengan celana cingkrang adalah tidak tepat karena nabi menyebut hadits itu dengan kata pakaian tsaub sementara pakaian tidak hanya celana tetapi juga baju surban kerudung dan lainnya. Pengguna cadar dan celana cingkrang bisa mendapatkan kecurigaan kekhawatiran dan ketakutan karena dianggap radikal.

Kemudian ada yang bertanya tentang seorang yang memakai pakaian yang indah sandal yang mewah dan surban yang mahal. Pendapat Ulama tentang Celana Cingkrang. DatDutCom Fenomena celana cingkrang timbul dari perbedaan pendapat hukum isbal di kalangan ulamaIsbal itu memakai celana sarung gamis dan lain sebagainya di bawah mata kaki.

Rasul SAW kemudian menjawab Belum tentu karena Allah SWT. Pertama mereka menganggap itu sunah. Penggunaan celana cingkrang ternyata sudah pernah dibahsa sejak zaman Rasulullah SAW berikut ini terdapat beberapa dalil dan pendapat ulama terkait penggunaan celana cingkrang sebagai salah satu pakaian sehari-hari antara lain.

Zainut menjelaskan masih ada perbedaan pandangan di kalangan ulama perihal pemakaian cadar bagi seorang muslimah. Tak usah ada larangan kalau nanti ada larangan masyarakat akan menuntut Ujar Sekjen MUI Anwar Abbas di kantornya Jakarta Jumat 01112019. Namun titik fokus atau penekanannya ada pada kesombongan.

Menurutnya yang utama sekarang adalah keberagamaan masyarakat Indonesia yang harus ditingkatkan toleransi dan kebersamaan harus digalakkan katanya. Faktor lainnya yaitu pandangan masyarakat tentang pengguna cadar dan celana cingkrang hanya sebagai tren fashion. Memanjangkan kain dan sifat sombong.

Apakah orang itu telah riya karena berpenampilan melebihi yang lainnya. Sebab ASN harus mengikuti aturan pakaian di kantor pemerintah. Itulah sebabnya ulama menyatakan bahwa keharaman itu berlaku umum kepada semua jenis pakaian.

Kedua mereka menganggap itu praktis. Masalah cadar dan celana cingkrang termasuk ke dalam perbedaan pandangan dalam Islam yang masih bisa kita toleransi penyelesaiannya pun melalui diskusi dan toleransi. Suatu ketika rasul bersabda kepada para sahabatnya Tidak akan masuk surga seorang yang di hatinya terdapat sifat riya.

Perdebatan tentang hukum isbal tidak hanya terjadi saat ini namun sudah ada sejak zaman dahulu. Wacana adanya larangan pemakaian cadar dan celana cingkrang dikhawatirkan akan menimbulkan opini kurang baik dari publik. Pendapat Ulama tentang Celana Cingkrang Penggunaan celana cingkrang ternyata sudah pernah dibahsa sejak zaman Rasulullah SAW berikut ini terdapat beberapa dalil dan pendapat ulama terkait penggunaan celana cingkrang sebagai salah satu pakaian sehari-hari antara lain.

Celana Cingkrang Dan Kesombongan Beragama

Syubhat Seputar Larangan Isbal

Celana Cingkrang Dan Larangan Isbal Menurut 4 Mazhab Fikih Republika Online